Being a mother is just being a mother

Being a mother is just being a mother

Post #69

Menjadi ibu tetaplah hanya menjadi seorang ibu. Yang harus menjadi orang paling kuat di keluarga, karena mood semua anggota keluarga lainnya ada di tangan ibu (I’m talking about the stomach fullness, of course) haha…

https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://anthillonline.com/wp-content/uploads/2016/02/work-family-juggle.jpg&imgrefurl=http://anthillonline.com/juggling-work-family-costing-australia-whopping-24-billion-year/&h=400&w=500&tbnid=x5_69PXiUJqZEM:&docid=f4Yl2wueN5NnUM&ei=DITzVpa7I4mVuATH85yQAw&tbm=isch&ved=0ahUKEwiW8aON1NjLAhWJCo4KHcc5BzIQMwgpKA8wDw

Menjadi ibu adalah menjadi orang yang paling berani dalam keluarga karena tanggung jawab pendidikan dan moral anak terletak di tangannya. Selain menjadi supporter sang ayah, tentunya.

Menjadi ibu adalah menjadi orang yang paling waras di antara seluruh anggota keluarga, karena kesehatan emosi anak ada di dalam hatinya.

Dari semua hal, yang terakhir adalah hal yang tersulit. WARAS.

Let’s say anak lo bener. Nggak neko-neko. Minumnya ASI, makannya nasi. Maka selamat, tingkat kewarasan lo ada di ambang rata-rata. Bahkan ada kemungkinan ada di atas rata-rata ketika anak lo nggak kenal yang namanya GTM (Gerakan Tutup Mulut) alias mogok makan. Then gimana kalo anak lo nggak bener di mata publik Indonesia yang maha perhatian satu sama lain ini?

Nggak minum ASI atau nggak makan nasi?

ASI adalah anugerah dari Allah, mukjizat terbesar dari-Nya di zaman yang serba praktis ini. Maka, nggak semua ibu mendapatkan karunia untuk ng-ASI lancar jaya tanpa aral melintang dimana-mana. Ada ibu yang tanpa usaha apapun, literally apapun untuk membuat tuh cairan ajaib mengalir lancar dari pabriknya. Tapi ada juga ibu yang udah lari ke gunung, turun ke laut untuk sekedar mengalirkan satu atau dua tetes ke mulut bayi mungilnya, namun kenyataannya ketika dipompa pun cuma bisa basahin pantat botol?

Maka dimanakah hati dan nurani kita ketika dengan sinisnya kita melirik ke ibu yang sedang ngocek sufor di botol ber-dot dan anaknya melahap habis sufor tersebut dengan semangat? masih mending kalo cuma melihat sinis.. lebih ekstrim lagi kalau sampai hati bilang “kok nggak ng-ASI, sih? males ya netekin?” 

Dang! belum pernah keselek petasan, bu? 😛

Maka menurut gue, sebagai sesama ibu-ibu yang sama-sama juggling setiap detik, menit, hari, minggu dan bulan untuk sekedar bertahan di bumi yang penuh perhatian ini. Let’s just face this together, struggling together and understand each other.  Nggak usahlah kita menjadi hakim gratisan dengan men-judge ini dan itu.

Let’s start supporting and quit judging!

Just my two cents

Image source: http://anthillonline.com/juggling-work-family-costing-australia-whopping-24-billion-year/

 

 

Belajar dari anak

Belajar dari anak

Post #67

 

Orang bilang untuk menulis, kita butuh inspirasi.

Buat gue, inspirasi terbesar dalam hidup gue adalah anak.

Gue ngajarin dia dikit, tapi dia yang ngajarin gue banyak hal.

Belajar bagaimana merendahkan level suara satu oktaf lebih rendah ketika marah

Belajar bagaimana menahan tangan kalau anak sedang belajar adu fisik

Belajar mengatur waktu dan uang.

Nah, poin yang paling terakhir itu yang bikin galau.

Waktu. 

Sekarang kalo gue mau main acang (gadget), gue bakal liat-liat kondisi.

Apakah mas Asa sudah makan/mandi/tidur/cukup mainnya?

Beda banget sama zaman dulu.. bisa bebas berselancar di dunia maya, kapan saja, dimana saja…dan sampai jam berapa saja…

Uang,

Entah kapan terakhir kali beli baju.

Lupa.

Tapi kalau mas Asa, terakhir kali beli baju sekitar 3 minggu lalu dan baru seminggu yang lalu beli sendal lagi.. karena kakinya dah update ukuran.

Kalau kita mau sadar, anak itu media belajar terbesar… daaaan.. tanggung jawab terbesar pula..

إِذَا مَاتَ اْلإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أوْ عِلْمٌ يَنْتَفِعُ بِهِ أوْ وَلَدٌ صَالحٌِ يَدْعُوْ لَهُ.

Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya. 

(Shahih Bukhari, 7/247, 6514 dan Shahih Muslim, 3/1016, 1631)

Nah… ketiga amalan yang tak terputus ini masing-masing nggak mudah, lho.

Kalo menurut gue sih yang terberat adalah anak..

Ya karena anak itu adalah ujian.. bisa menjadi pintu surga atau pintu (naudzubillahimindzalik) neraka.

HUaaaa… Asaboy.. ajarin mami terus ya nak… supaya mami bisa jadi ibu yang baik…

lope lope, boy :*

Anakku, Pialaku…

Anakku, Pialaku…

Senin, 7 Maret 2016

Post #66

Siapa yang tidak bangga ketika anak kita bisa menjadi juara lomba menghafal quran di sekolahnya?

Siapa yang tidak bangga ketika seorang anak balita, sudah bisa berbahasa asing dengan sangat fasih?

Maka berlomba-lombalah kita, para mahmud (mamah muda) dan pahmud (papah muda), memposting kepintaran dan prestasi anak masing-masing ke sosial media… bahkan tak jarang, ketika kita berbicara dengan kolega dan keluarga, topiknya tidak jauh dari “sindrom anak sendiri”.

Saling membanggakan kemampuan anak masing-masing.

Saling membagi cerita, betapa kita bangga…

Tapi kadang kita lupa bahwa mereka adalah manusia, yang bisa merasa lelah…

Lelah untuk menuruti segala perintah dan kemauan kita yang selalu sempurna..

Kita lupa bahwa anak juga bisa merasa bosan dengan semua tuntutan.

Kita lupa dan mabuk pujian

Hingga kita terlena dan menyingkirkan esensi dari kata “orang tua”

Orang yang dituakan

Yang seharusnya mencontohkan,

Bukan sekedar memerintahkan

Bukan sekedar mengacungkan tangan dan berteriak penuh makian.

“Dasar malas, kamu! Ayo belajar.. sebentar lagi ujian!”

Bukan juga sekedar mesin ATM, yang hanya bisa memenuhi kebutuhan material.

Anakku bukanlah pialaku,

Anakku adalah cermin pribadiku.

Tempat aku melihat, tentang bagaimana aku bersikap.

Tempat aku membaca, bagaimana aku berbicara.

Anak bukanlah sasaran amarah dan ambisi pribadi orang tua.

Betapa banyak anak pintar secara akademis tapi minus secara moral?

Lalu apa jawaban kita ketika Allah menanyakan pertanggungjawaban nanti di akhirat?

Masihkah bisa kita menjawab,

“Maaf ya Allah, saya sibuk…?”

 

-Just my two cents-

 

 

Menggapai Asa

Menggapai Asa

Minggu, 6 Maret 2016

Post #65

Ini adalah sebuah kisah klasik tentang kegalauan seorang ibu bekerja yang akan berpindah kuadran untuk menjadi seorang ibu rumah tangga (profesional)

Kenapa gue bilang sebuah kisah klasik?

Karena perang ibu-ibu antara siapa yang lebih mulia antara Ibu Bekerja (IB) atau Ibu Rumah Tangga (IRT) itu adalah bagaikan mendebat akan siapa yang lebih duluan keluar, telur atau ayam?

A never ending war

Kalo gue sekarang mikirnya sederhana aja.

Gue guru. Gue mengajar. Anak siapa? Anak orang.

Terus anak gue gimana? Dititip ke orang.

Ironis? Iya sih menurut gue (sekarang).

Gue meninggalkan anak gue yang masih unyu-unyu itu untuk dirawat sama orang lain, which is nggak orang lain banget sih.. kakak ipar sendiri juga.. tapiiii.. tetap aja kan.. bukan dipegang sama gue.

Sebetulnya lebih ironis ketika Asa masih berusia 3 bulan dan gue super galau.. kemana anak gue akan gue titipkan..

Dan tetiba, seorang pemilik daycare yang dulu pernah gue hubungi saat hamil, kontak gue karena katanya ada satu slot kosong.. Subhanallah kan.. Allah Maha Tahu akan kebutuhan hamba-Nya.

Sekarang, gue bukan super galau lagi.. tapi super duper galau tingkat dewa.

Mengingat dunia kita sekarang bukanlah sebuah dunia yang ramah anak. Walaupun slogan kota layak anak, even spanduk RW layak anak terpampang dimana-mana, tapi nyari tempat penitipan anak di kota ini susahnya minta ampun. Dan.. slogan tetaplah slogan…

Dengar pula kata-kata bu Elly Risman di sebuah stasiun tv suatu pagi,

kalau saja orang tua muda zaman sekarang tidak terlalu sibuk mengejar materi, maka anak2 tidak akan kehilangan sosok orang tuanya sendiri…

Makjleeeb!!

dan ada pula sebuah status dari manajer di tempat gue magang dulu, Ibu Dina Mustafa

beliau menyatakan bahwa,

Saya anjurkan kpd semua pasangan suami isteri yg msh memiliki anak kecil, jika Anda mampu, salah satu dari Anda harus jadi orangtua yg tinggal di rumah untuk menanamkan nilai2 yang Anda yakini…

Meskipun Anda mampu jangan kirim anak Anda sekolah ke luar negeri sampai mereka mencapai S2. Anda, sebagai orang tua, harus selalu dpt memantau perkembangan sikap, kemampuan n etika putra putri Anda smp mrk S2.

Ini semua utk memelihara etika keluarga, mencegah penyimpangan moral n kriminal. In Shaa Allah

Langsung nangis dong, baca itu.. ditambah kondisinya anak gue waktu itu lagi sakit…

Dilema, dilema, dan dilema…

Akhirnya gue coba lah untuk trial urus anak sendiri di rumah. Karena minggu lalu Asa sakit, maka gue tinggal di rumah… dan nyatanya gue sangat menikmati aktifitas sebagai ibu rumah tangga. Bukan menikmati pekerjaan rumahya,yah…  tapi menikmati saat-saat bersama anak semata wayang gue.. itu..

Bisa melihat dia wara wiri di depan gue, 24 hours a day, 7 days a week.. it was a super priviledge!

Gue jadi tahu karakter dia sesungguhnya.. dan menghadapinya juga tentunya.. U know lah.. kids will be just kids.. they’ll test us to the very top of our insanity level….

Gue juga semakin dekat dengan anak ini.. Jujur, dulu gue sempat cemburu kenapa anak gue suka lebih milih bapaknya daripada milih gue.. tapi sekarang.. bangga dong.. anak gue dah lebih betah ikut sama gue daripada bapaknya.. hahaha.. ibu macam apa gueee???

Mungkin karena sebelumnya gue selalu keras sama Asa.. yah minimal dia tahu sih.. kalo dia masih asyik aja main toilet spray  di kamar mandi.. dan gue dah teriak.. ( I am, teriak)

“mas… satu.. dua.. ”

nggak lama, buru-buru dia taruh itu spray  di tempatnya sambil laporan..

“iya mami.. mas dah taro ni splei nya”

I love him. Very very very d*mn much… even more.. much so much more than before.

Gue belumlah menjadi seorang ibu yang sempurna.. tapi gue akan terus belajar.. belajar menjadi seorang ibu yang baik.. karena pada kenyataannya, secara naluriah, seorang ibu tetaplah ibu.. posisinya nggak akan tergantikan dan gak akan pernah rela digantikan..

-Just my two cents-

 

 

Telepon umum

Telepon umum

Sabtu, 5 Maret 2016

Post #64

telp_umum
Img Src: http://megapolitan.kompas.com/read/2014/01/05/0951297/Mengenang.Jasa.Telepon.Umum.

Telepon umum, nasibmu kini…

Masih ingat bagaimana dulu kita pernah bercengkrama dengan alat komunikasi yang satu ini?

bagi yang lahir sebelum tahun 90’an pasti pernah merasakan bagaimana kita mengantri hanya untuk mendapatkan giliran berbicara di dalam kotak ini.

Telepon genggam masih jarang, yang ada hanyalah pager, itu pun hanya satu dua anak orang kaya yang bisa memilikinya.

Seni paling indah ketika  menggunakan telepon umum ini adalah saat kita memasukkan koin, kemudian entah gimana caranya itu koin nggak masuk ke dalam box penyimpanan, tapi meluncur terus ke bawah sampai di bilik pengambilan koin yang biasanya ada di kotak kanan bawah.

Triknya macam-macam..

mulai dari melubangi koin kemudian mengikat koin dengan kenur anti putus atau senar gitar…

Itu hanya satu trik.. trik lainnya bisa dilakukan dengan cara mengklik tuas sambungan telepon sesuai dengan jumlah nomor telepon.

Bingung? Praktekkan saja.. eh, dah nggak bisa yah?

Pokoknya, telepon umum itu banyak seninya

Mulai dari hunting koinnya, mengantri, sampai salah sambung.

Intinya ini postingan lama-lama nggak nyambung.. 😛