Qualitative Research: The 3rd Edition

Qualitative Research: The 3rd Edition

Penelitian kualitatif adalah sebuah penyelidikan menyeluruh terhadap suatu bidang sesuai dengan kondisi aslinya

Penelitian jenis ini melintasi garis batas disipliner, bidang dan berbagai subyek. Metode ini dikelilingi oleh berbagai kumpulan hal kompleks yang saling berhubungan satu sama lain, konsep dan berbagai asumsi. Meliputi tradisi yang berkaitan dengan hal mendasar, positifisme, tonggak dasar dan structural serta berbagai sudut pandang kualitas, dan atau beberapa metode yang berhubungan dengan studi kebudayaan dan interpretif.

Terdapat banyak literatur yang terpisah dan membahas secara detail tentang berbagai metode dan pendekatan penelitian kualitatif, seperti studi kasus, politik dan etik, survei publik, wawancara, observasi publik, metode visual, dan analisa interpretif.

Di Amerika Utara, penelitian kualitatif bekerja dalam sebuah bidang sejarah kompleks yang telah melalui delapan periode sejarah, yaitu:

  1. Tradisional (1900-1950)
  2. Modernis (Periode emas) (1950-1970)
  3. Masa blur (1970-1986)
  4. Masa Krisis Representasi (1986-1990)
  5. Masa postmodern, masa percobaan dan etnografi baru (1990-1995)
  6. Masa postexperimental inquiry (1995-2000)
  7. Masa metodologi teruji (2000-2004)
  8. Masa perkiraan masa depan (2005-)

Kedelapan tahapan ini terus mempengaruhi keadaan saat ini secara simultan

Setiap definisi penelitian kualitatif harus mengacu pada sejarah ini. Karena pada setiap masa tertentu, penelitian kualitatif mempunyai pengertian yang berbeda. Namun, sebuah pernyataan umum yang bisa disimpulkan adalah bahwa penelitian kualitatif adalah sebuah aktifitas situasi yang menempatkan peneliti di dunia, yang mempunyai banyak interpretasi, material praktis sehingga membuat dunia terbuka.

Praktek ini membentuk dunia, yang pada nantinya menggulirkan dunia ke dalam beberapa interpretasi, termasuk catatan lapangan, wawancara, percakapan, foto, rekaman dan berbagai memo. Pada tahapan ini, penelitian kualitatif melibatkan pendekatan interpretif dan naturalistik ke dalam dunia. Hal ini berarti bahwa peneliti kualitatif mempelajari hal berdasarkan naluriah mereka, mencoba memahami atau menerjemahkan setiap fenomena yang terjadi dan memberikan permahaman yang sama kepada orang lain.

Penelitian kualitatif melibatkan kumpulan berbagai materi empiris pembelajaran, seperti studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, kisah hidup, wawancara, artifak, teks dan hasil budaya, observasi, kesejarahan, interaksi sosial, dan teks visual. Kumpulan materi tersebut menggambarkan kejadian rutin dan momen problematik yang memberikan kesan dalam kehidupan setiap individu.

Dengan demikian, penelitian kualitatif menyebarkan praktek pemahaman luas yang saling berhubungan satu sama lain, yang diharapkan akan menimbulkan keseragaman pengertian terhadap suatu hal. Walapun pada prakteknya, dunia dapat dipahami melalui beragam cara yang berbeda. Oleh sebab itu, terdapat sebuah komitmen untuk menggunakan tidak hanya satu metode/ pendekatan pemahaman dalam suatu penelitian

PENELITIAN KUALITIATIF VS PENELITIAN KUANTITATIF

Kata kualitatif berarti penekanan pada kualitas entitas, proses dan makna yang tidak hanya diuji atau diukur secara eksperimental tetap juga kuantitas, jumlah, intensitas atau frekuensi. Penelitian kualitatif menekankan pada kenyataan alamiah yang dibangun secara sosial, keterkaitan erat antara peneliti dan obyek penelitian, serta situasi yang terjadi dalam penelitian tersebut. Penelitian jenis ini menekankan pada pemuatan-nilai alamiah. Yang mencari jawaban pada setiap pertanyaan bagaimana pengalaman masyarakat terjadi dan menimbulkan makna.

Sebaliknya, penelitian kuantitatif menekankan pada ukuran dan analisa hubungan sebab akibat antara setiap variabel yang ada, bukan pada prosesnya. Para pendukung penelitian kuantitatif menyatakan bahwa penelitian ini dilakukan dari sebuah kerangka kerja bebas-nilai

GAYA PENELITIAN: Melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda?

Pada umumnya, para peneliti kualitatif dan kuantitatif “merasa bahwa mereka mengetahui suatu hal berharga yang pantas diketahui secara umum, dan mereka menggunakan berbagai bentuk, media dan alat untuk mengkomunikasikan ide dan penemuan mereka” (Becker, 1986, p. 122)

Menurut Becker, penelitian kualitatif dan kuantitatif berbeda secara signifikan pada 5 hal. Kelima hal ini melibatkan perbedaan cara dalam menempatkan suatu hal yang sama. Pada akhirnya, mereka kembali pada politik penelitian dan siapa yang mempunyai kekuatan untuk memberikan solusi yang tepat pada permasalahan publik.

Kelima hal tersebut adalah:

  • Menggunakan positifisme dan postpositifisme.

Menurut Guba, pada versi positifis, setiap kenyataan yang ada di luar sana haruslah dipelajari, ditangkap dan dimengerti. Sedangkan versi postpositifis menganggap bahwa tidak semua hal yang ada dapat dimengerti sepenuhnya, namun hanya diperkirakan.

Postpositifisme menggunakan banyak metode untuk menangkap sebanyak mungkin realita yang ada. Pada saat yang sama, menekankan pada penemuan dan verifikasi teori. Kriteria evaluasi tradisi menekankan pada validitas internal dan eksternal, sebagaimana digunakan pada prosedur kualitatif yang berdasarkan pada analisa struktur (terkadang statistik). Mereka menggunakan metode komputerisasi, tabulasi dan analisa statistik tingkat rendah.

Tradisi positifis dan positifisme menyambalewa dan membayangi proyek penelitian kualitatif. Berdasarkan sejarah, penelitian kualitatif didefinisikan menurut paradigma positifisme, dimana para peneliti kualitatif mencoba untuk melakukan penelitian positifis menggunakan metode dan prosedur yang kurang tepat. Menurut Becker, Geer, Hughes dan Strauss, beberapa partisipan observasi penelitian yang dilakukan pada pertengahan abad 20 dilaporkan memberikan keterangan palsu. Sebagaimana dinyatakan oleh Strauss dan Corbin pada tahun 1998, dua orang pendukung penelitian kualitatif, mencoba untuk memodifikasi positifisme sehingga sesuai dengan konsep postpositifisme. Pada tahun 2002, Flick menyimpulkan bahwa perbedaan antara kedua pendekatan penelitian ini, mengingat bahwa pendekatan kuantitatif telah digunakan untuk mengisolasi “sebab akibat…mengoperasikan hubungan secara teoritis…[dan] mengukur dan…menghitung fenomena…menggeneralisasi penemuan”. Namun pada saat ini, keraguan ditempatkan pada hal hal seperti: “Perubahan masyarakat yang demikian cepat dan menghasilkan diversifikasi kehidupan dunia semakin mengkonfrontasi penemuan masyarakat dengan perspektif dan konteks sosial yang baru… metodologi deduktif tradisional…telah gagal…oleh karena itu penelitian semakin dipaksa untuk membuat strategi induktif alih alih memulai dan menguji teori yang baru…ilmu pengetahuan dan ilmu praktis dipelajari sebagai ilmu pengetahuan dan ilmu praktis lokal

Splinder dan Splinder (1992) menyimpulkan pendekatan kualitatif mereka terhadap materi kuantitatif: “Instrumentasi dan kuantifikasi merupakan prosedur sederhana yang digunakan untuk memperluas dan memperkuat beberapa jenis data, interpretasi dan hipotesa pengujian sampel. Keduanya harus ditempatkan sesuai pada posisinya dengan tepat. Satu hal yang perlu dihindari adalah pradini atau penggunaan mekanisme keamanan secara berlebihan.

Meskipun banyak peneliti kualitatif tradisi positifisme yang menggunakan metode dan pengukuran secara statistik, menggunakan dokumen sebagai cara menelaah sekelompok masyarakat tertentu, namun mereka jarang melaporkan penemuannya dalam hal metode pengukuran statistik kompleks apa yang digunakan (co: jejak, regresi dan analisa log linear)

  • Penerimaan sensibilitas postmodern

Penggunaan kuantitatif, metode dan asumsi positifis telah ditolak oleh generasi peneliti kualitatif baru yang telah terikat pada sensibilitas poststruktural dan postmodern. Para peneliti ini berdebat bahwa metode positifisme tidak lain hanyalah sebuah cara untuk menceritakan tentang masyarakat atau dunia sosial. Metode ini tidak lebih baik atau buruk daripada metode yang lainnya, mereka hanya menceritakan cerita yang berbeda.

Namun peneliti lain tidak menyetujui hal ini. Menurut Huber pada tahun 1995, banyak pendukung teori kritis, konstruktifis poststruktural dan postmodern yang menentang cara kerja kaum positifis dan postpositifisme. Mereka melihat beberapa kriteria yang tidak relevan dengan cara kerja mereka sendiri dan menganggap positifis dan postpositifisme hanya menghasilkan sebuah suara yang dapat membungkam suara yang lainnya.

Para peneliti ini mencari metode alternatif untuk menguji hasil kerja mereka, termasuk wujud kebenaran, emosionalitas, tanggung jawab pribadi, etika kepedulian, praktek politik, teks multivois, dan dialog dengan subyek. Sebagai respon, kaum positifis dan postpositifisme membantah dengan menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sains yang baik dan obyektif. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, mereka menganggap bahwa postmodernis dan poststruktural menyerang alasan dan kebenaran.

  • Menangkap sudut pandang individu

Baik penelitian kualitatif dan kuantitatif mengacu pada sudut pandang individu. Namun, peneliti kualitatif menganggap bahwa mereka lebih dapat mendekati sudut pandang obyek penelitian melalui wawancara dan observasi. Peneliti kualitatif menganggap bahwa para peneliti kuantitatif jarang dapat menangkap sudut pandang obyek penelitian karena jarak yang tercipta antara peneliti dan obyek, dan penekanan pada segi metode dan materi empiris. Sedangkan para peneliti kuantitatif menganggap bahwa materi empiris yang dihasilkan dari metode interpretasi adalah tidak dapat dipercaya, tidak mengesankan, dan tidak obyektif.

  • Menguji batasan kehidupan sehari-hari

Pada umumnya, peneliti kualitatif sering menentang dan melampaui batasan kehidupan sehari-hari. Mereka memandang dunia, bereaksi terhadapnya dan memadatkan penemuannya ke dalamnya. Peneliti kuantitatif meneliti dunia secara abstrak dan jarang mempelajarinya secara langsung. Mereka mencari nomotetik dan sains etik yang berdasarkan pada kemungkinan yang disimpulkan dari pembelajaran dari beberapa kasus yang diambil secara acak.

Pernyataan jenis ini mencuat ke permukaan dan berada di luar batasan kehidupan sehari-hari. Para peneliti kualitatif berkomitmen pada idiografis, dan posisi dasar kasus yang mengacu pada kasus tertentu.

  • Mengamankan kekayaan despkripsi

Peneliti kualitatif percaya bahwa deskripsi yang kaya tentang dunia kemasyarakatan merupakan hal yang berharga, dimana para peneliti kuantitatif tidak terlalu mengindahkan hal tesebut. Peneliti kuantitatif berperilaku demikian karena mereka menganggap bahwa detil semacam itu dapat mengganggu proses pengembangan generalisasi.

Berdasarkan deskripsi di atas, kita dapat melihat bahwa peneliti kualitatif menggunakan prosa etnografik, narasi sejarah, memperhitungkan pelopor, foto, bukti-bukti sejarah, “bukti” yang difiksikan, dan materi biografi dan autobiografi. Sedangkan peneliti kuantitatif menggunakan model matematis, tabel statistik, grafik, dan pada umumnya mereka menulis penelitian mereka secara impersonal, sebagai orang ketiga yang berada di “luar kotak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s