Aku Bukan Perempuan

Aku Bukan Perempuan

Aku bukan perempuan. Begitu kata mereka. Teman-temanku, saudara, tetangga bahkan bundaku sendiri bilang. Aku bukan perempuan. Secara fisik, ya. Namun berpikir laksana lelaki, bertindak laksana lelaki, dan berjalan laksana lelaki. Sedari kecil, aku mendapat berbagai macam julukan, mulai dari tomboi, perempuan setengah lelaki, wanita perkasa hingga perempuan baja. Aku terima semua nama nama itu, karena aku pun menyadari. Aku bukan perempuan.

Ya, aku bukan perempuan. Ketika aku mengendarai sepeda motor di jalanan, menyalip sana sini mencari celah di antara kepadatan lalu lintas kota pinggiran yang menjadi rumah bagi ribuan pekerja di Jakarta. Berpacu, dengan waktu demi sesuap nasi dan segenggam berlian. Ya, aku bukan perempuan. Ketika aku bercengkrama dengan para sahabat lelakiku, membicarakan para perempuan yang menjadi incarannya maupun yang sudah mereka renggut hatinya. Ya, aku bukan perempuan. Ketika aku merangkak di kolong meja, berseliweran dengan kabel yang saling silang di hadapanku, memasang kabel jaringan maupun menghadapi PC yang sedang manja. Ya, aku bukan perempuan. Ketika aku pulang larut malam, mencari sumber di warnet, maupun menyelesaikan setumpuk tugas beban belajar.

Tetapi tidak, aku tetap perempuan. Aku masih mengenakan busana muslimah, aku masih melayani “tamu bulanan” dan aku masih mempunyai perasaan terhadap lelaki. Aku, perempuan. Normal. Aku tidak menyukai sesama wanita alias lesbi, aku pun jatuh cinta pada seorang pria. Iya, aku jatuh cinta…pada.seorang.pria…

Aku seorang perempuan, ketika air mata mengalir deras, menganak sungai di pipiku… saat ia pergi…saat kekasih hati menyakiti atau saat terhanyut menonton film drama romantis di televisi. Aku seorang perempuan, ketika harus berkutat dengan pekerjaan domestik. Aku seorang perempuan, ketika ia datang kepadaku, menyatakan cinta kemudian meminta kesediaan diriku untuk hidup bersamanya, selamanya…

Mungkin mereka benar ketika mereka bilang aku bukan perempuan, karena sudah lama kurasakan bahwa ada sesosok pria di dalam diriku sendiri. Dan aku bersyukur karena sisi maskulin dalam diriku selalu menemani dalam kesendirianku, selalu menjadikanku tegar dalam setiap lemahku, selalu mengingatkanku akan feminismeku…

Bukan aku mencoba mengingkari apa yang ada, eksistensiku sebagai perempuan, bukan. Namun ketika ayah pergi, aku selalu berusaha lebih keras dari teman perempuanku, aku selalu berusaha lebih bisa dan lebih mampu. Karena aku terbatas secara fisik dan ekonomis. Aku tidak cantik maupun kaya. Aku selalu berpikir jika aku berhasil, maka ia akan kembali ke rumah mungil kami kemudian aku akan mempunyai sesosok pria yang kuagungkan. Maka aku selalu berusaha menjadi seorang gadis kecilnya yang baik, yang menurut, yang dapat dibanggakan. Namun ia tak kunjung datang.

Namun hingga pada suatu titik, aku bosan. Aku lelah. Aku lantak. Ia kembali, namun hanya meninggalkan luka dan lebih membuat bunda menangis. Cinta menjadi benci, harapan menjadi dendam. Aku tersiksa hati dan batin, aku merasa dikhianati. Aku merasa semua sia sia. Karena akulah ayah bertindak demikian. Aku yang masih tidak baik, tidak menurut dan tidak dapat dibanggakan.

Aku berusaha lebih keras. Namun kali ini, aku tidak ingin ia kembali. Aku hanya ingin memperlihatkan padanya bahwa luka yang ia tinggalkan telah menjadikanku seorang perempuan sekaligus lelaki. Aku ingin ia melihat bahwa aku tidak lemah, aku tidak seperti bunda yang terlalu baik melayani ayah. Aku hanya ingin ia tahu, aku berbeda. Maka kulakukan segala cara agar aku juga bisa melakukan hal-hal yang seorang pria dapat lakukan. Bagiku, tidak ada kata tidak bisa selama ada kemauan. Aku selalu percaya bahwa Allah menjadikanku seperti ini atas sebuah maksud.

Aku selalu percaya…

Maka aku hanya bisa diam dan tersenyum sahaja ketika mereka bilang…

Aku… Bukan… Perempuan…

karena sesungguhnya, mereka tidak tahu…

karena sesungguhnya, mereka menyayangiku…

karena sesungguhnya, Allah telah memberikanku ayah-ayah lain yang jauh lebih menyayangiku, yang jauh lebih memperhatikanku dan sangat sangat bersedia menjadi wali ketika tiba saatnya nanti…saat pelepasan itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s