Don’t judge a book from its cover

Don’t judge a book from its cover

Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Davao ini, satu kesan terbersit di benak saya: Panas.

Ya, Davao adalah sebuah kota yang panas, tidak jauh berbeda dengan kota Kendari, kota teluk di seberang laut sana.

Davao City

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju House of Indonesia,kesan lain terlintas: tata kota yang masih perlu pembenahan

davao city

masih banyak lahan kosong yang tidak terawat dan kabel listrik yang kurang tertata rapi, beda dengan Indonesia yang infrastrukturnya sudah tertata.

jeepney

Ketika berpapasan dengan angkutan kota (jeepney), kesan lain muncul: unik. Beda dengan angkot Indonesia yang aman dan nyaman.

Sepanjang workshop di HOI, saya agak terkaget karena di dalam sebuah workshop berskala regional ini, para staf sekolah dari Davao mengenakan pakaian yang “sederhana” dan terkesan “seadanya”

berbeda dengan kami rombongan dari Indonesia, yang terlihat formal dengan setelan batik dan aksesoris resmi lainnya

Namun, semua kesan itu terhempas ketika satu demi satu perwakilan dari sekolah Davao mempresentasikan sekolahnya. Sebagian besar dari mereka adalah ibu-ibu, dan mereka semua fasih berbahasa Inggris. Bukan hanya sekedar “yes” or “no”, atau “thank you”, tapi betul-betul fasih.

ckckcck.. ternyata pepatah lama don’t judge a book by its cover itu berlaku disini.

oke, mungkin itu suatu hal yang biasa, karena para ibu tersebut notabene adalah “ibu-ibu berpendidikan tinggi”

tapi ada kejadian yang unik lagi. Suatu hari di minimarket, seorang ibu menegur saya dan berbicara dalam bahasa Visaya (bahasa lokal Davao). dan saya bilang, “I’m sorry, I don’t understand” lalu kemudian ibu itu mengantisipasinya dan berbicara kepada saya dengan bahasa Inggris yang fasih pula… wow…!

Kemudian saya berpikir.. kapan Indonesia bisa seperti ini? ketika bahasa inggris menjadi “makanan sehari-hari”, bahasa inggris bukan sebuah hal yang “wah”.. tetapi bahasa inggris menjadi sebuah kebiasaan dan menjadi media untuk menjembatani semua perbedaan antar bangsa.

kapan negara kita bisa menjadi “penduduk dunia?”. Mohon maaf, bukan bermaksud menyinggung pihak manapun. Tetapi, rasanya bangsa kita perlu belajar banyak dari negara tetangga ini. Sebagai negeri bekas jajahan Spanyol, Filipina lebih bisa “memberdayakan” diri dan memaksimalkan potensi.

Indonesia, negeri tercinta yang terlalu mementingkan citra

dan Filipina, negeri orang yang mengesampingkan citra dan mendahulukan “isi”

6 thoughts on “Don’t judge a book from its cover

  1. after living 5 years in tagum, manila and davao i can say the philippines are the most ugly and dirthy place in the world with stupid and ignorant people ……………..
    i never saw a similar place all over the world with so so so much shit on the streets….

      1. Well, you can read my posts in this blog..
        so, any special info you’d like to now?
        if you’re a foreigner, it’s not so difficult to stay in the Philippines since they use English in their daily conversations.🙂

    1. i was an expat in manila for more than 5 years and i have traveled all over the Philippines. it’s not as clean as japan but i still would say it’s one of the most beautiful countries I’ve ever been. people are warm, friendly, sincere and welcoming.

      1. Wow… that’s a wonderful experience… I was just travel around Davao…🙂
        Thanks for your comment…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s