Becoming a mother

Becoming a mother

Mother…

Apa sih essens dari kata itu? Ibu, Bunda, Mama, Mother, Emak, Mbok.

Semua mempunyai arti yang sama. Seorang perempuan yang telah melahirkan kita dari rahimnya. Simple.

Tapi pada kenyataannya tidaklah semudah itu.

Why did I say that?  Karena sekarang, saya seorang ibu.

saya jadi tahu ternyata betapa menyusahkannya saya dulu semasa saya masih kecil. Bayi. Makhluk mungil yang belum berdosa, belum mengerti dan mengetahui apapun. Hanya tahu menangis.

Sekarang saya punya seorang bayi laki-laki. We call him Asa. Harapan. Atau “pagi” dalam Bahasa Jepang, karena Asa lahir pada dini hari, menjelang fajar.

Mudahkah menjadi seorang ibu? Tidak. Susah, saudara-saudara.

Ditambah lagi, 11 hari selepas melahirkan via SC kami “nekat” pindah ke kontrakan mungil kami. Hanya bertiga. Saya, papanya dan Asa.

Kenapa nekat? karena kami adalah orang tua baru yang masih dalam proses belajar. Belum lagi saya masih masa pemulihan paska operasi dan harus mengurus rumah dan bayi.

I knew this won’t be so easy. Ketika sebelumnya di rumah mama saya, segalanya begitu mudah. Saya tidak perlu memasak, mencuci bahkan sampai urusan sarapan pun dilayani. Everything is so easy.

Ketika saya sampai di kontrakan. Dang! Berbalik 180 derajat. Sekonyong-konyong semua ada di pundak saya dan suami.

Berat? iya. Tapi kami bisa melaluinya.

Tidak mudah memang. Bahkan emosi saya sempat labil, mungkin itu yang dinamakan baby blues. Sempat merasa bersalah dengan suami karena merasa tidak becus mengurusi Asa dan rumah. Harus betul2 mengatur waktu dan mencuri2 kesempatan ketika Asa sedang tidur.

Hari pertama saya hanya berdua dengan Asa (papanya kerja), aktifitas saya hanya di seputar Asa. Tidak tega rasanya tidak mendampinginya di tempat tidur. Sampai saya harus menunggu papanya pulang baru saya akan mandi dan kemudian mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Beruntunglah saya memiliki suami yang sangat kooperatif dan AyahASI.

Hari kedua, saya masih menunggui Asa. Tapi sudah mulai bisa mengatur waktu. Saya mandi, masak dan beberes sebelum papanya berangkat kerja. Ketika dia pulang, baru saya akan mengerjakan sisa pekerjaan rumah yang lain.

Hari ketiga, baru saya “agak berani” meninggalkan Asa sendirian yang sedang terlelap. Itu pun hanya 1 atau 2 menit sampai saya “melongok” Asa lagi di kamar. Aktifitas masak atau beberes pun harus “pause” sejenak kalau Asa mengompol atau minta mimik.

Dan hari-hari berikutnya, saya semakin “santai” untuk meninggalkan Asa bobo sendiri. Saya mulai percaya diri. Jangan dibilang tanpa air mata. Kadang ketika baby blues menyerang, saya bisa saja menangis tanpa alasan yang jelas.

Arus hormon yang fluktuatif semakin menambah situasi ini.

Over all, saya bersyukur.

Walaupun postingan kali ini agak setengah mengeluh, dan saya bersyukur. Suami dengan tanpa lelahnya rela menemani saya menyusui Asa tengah malam. Mengganti popok Asa yang basah dan membiarkan saya tidur sementara ia akan membujuk Asa untuk kembali tidur.

Thank you Allah. Terima kasih atas anugerah 2 lelaki luar biasa dalam hidupku. Papa dan Asa. I love both of U. so much. *peluk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s