Breastfeeding

Breastfeeding

Menyusui alias breastfeeding buat sebagian besar perempuan di jaman dulu mungkin merupakan suatu hal yang lumrah dan sangat biasa. Namun sekarang, di tengah hingar bingar kampanye emansipasi wanita dan kesetaraan gender, kegiatan menyusui terkadang dianggap sebuah hal yang hanya dapat dilakukan oleh para Full time mom alias ibu2 rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah. Bagi para working mothers, sepertinya menyusui hingga 6 bulan (ASIX) merupakan hal yang merepotkan dan perlu perjuangan khusus. Bagaimana tidak? Jatah cuti yang hanya 3 bulan lah yang menjadi alasan mengapa sebagian rekan-rekan saya sesama ibu “baru” tidak dapat memberikan hak bayinya ASI Eksklusif selama 6 bulan.

Mohon maaf sebelumnya apabila tulisan ini menyinggung pihak-pihak tertentu. Tulisan ini dimaksudkan untuk mendukung para ibu untuk menyusui.Dulu sebelum menikah dan punya anak, saya pun tidak pernah membayangkan untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayi saya kelak. Karena saya menganggap susu formula adalah solusi terbaik bagi bayi yang akan saya tinggal selama saya bekerja. Bahkan sempat saya menyarankan kakak ipar saya untuk memberikan asupan sufor ke kemenakan saya ketika ia masih berusia 3 bulan karena saya masih sangat awam dan menganggap bahwa asupan ASI dari kakak saya tersebut tidak akan mencukupi kebutuhan gizi kemenakan saya tersebut.

Hingga pada saat saya hamil, saya banyak browsing dan membaca info tentang persiapan melahirkan. Hingga sampailah saya ke banyak sekali referensi yang menyarankan untuk menyusui. Sampai akhirnya entah mendapat ilham dari mana, saya putuskan saya akan memberikan ASI Eksklusif kepada bayi saya nantinya.

Persiapan menyusui pun telah saya lakukan semenjak kehamilan menginjak usia 5 bulan. Alhamdulillah, pada saat uk tersebut tetes-tetes ASI mulai bermunculan. Selain persiapan menyusui secara teknis yang kami persiapkan, ada beragam hal yang kami (saya dan suami) lakukan sebelumnya, yaitu:

1. Konsultasi dengan konselor laktasi. Waktu itu saya masih ditangani oleh Dr. Winur, SPog yang sangat Pro ASI sehingga beliau menyarankan kami untuk berkonsultasi dengan salah satu konselor laktasi di RSIA Aulia (belakangan saya ketahui KL tersebut pindah praktek ke RSIA Andhika, Jagakarsa). Konseling ini penting. Banyak hal yang tadinya saya anggap sepele menjadi hal yang saya sangat perhatikan dalam rangka persiapan menyusui ini, seperti tidak memberikan media dot kepada bayi sebagai pengganti puting karena akan menyebabkan kesulitan menyusui langsung (bingung puting). Pada prakteknya, kami memberikan botol sendok sebagai media feeding ke baby Asa.

2. Sounding ke berbagai pihak penting (orang tua dan mertua) bahwa bayi kami hanya akan diberikan ASI. Hal ini untuk menghindari kemungkinan2 jika nantinya produksi ASI saya ternyata berkurang dan para eyang tidak sabaran untuk memberikan formula. Ini gak kalah penting, karena di saat2 genting seperti itu, para eyang/mbah/oma sangat mengkhawatirkan keadaan cucu dan pada umumnya hanya memikirkan jalan pintas untuk mengganti asupan ASI yang sedang tiris dengan sufor. Kami beruntung karena semenjak menikah, sudah tinggal pisah dengan mertua dan orang tua ke rumah kontrakan. Sehingga baby Asa betul-betul kami jaga dan rawat berdua, tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

3. Meyakinkan dan menyamakan visi misi dengan suami. Ini saya tulis menjadi poin ketiga karena sejak awal suami memang sudah mendukung saya untuk ASI Eksklusif. Mendukung disini bukan hanya “flagging” mendukung, tetapi mendukung secara sepenuhnya. Mulai dari membelanjakan barang2 kebutuhan ASIX, buku-buku tentang ASI, hingga mencuci-sterilkan botol2 kaca dan memberi pijatan oksitosin🙂.

Hingga hari ini, baby Asa masih mendapatkan hak ASI Eksklusifnya selama 3 bulan 1 minggu dan 6 hari. ASI Eksklusif tanpa diberikan cairan lain setetes/ setitik pun.

Mengapa harus ASI?

karena…

1. Di dalam surat cintanya, Allah berfirman:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Maka nikmat Tuhan manakah yang akan kamu dustakan? Telah dikaruniai makanan terbaik bagi bayi yang kita, para ibu, perlu usahakan sedikit saja untuk memberikannya kepada bayi kita. (Sumber)

2. ASI is the best. Telah dibuktikan oleh beragam penelitian bahwa tidak ada cairan terbaik untuk bayi selain ASI. Dan tidak ada susu formula semahal apapun yang dapat menyamai komposisi dan dinamika komposisi gizi yang akan menyesuaikan diri dengan usia bayi. (Sumber)

3. Praktis. Tinggal buka “gentong” dan hap! baby bisa segera menyusu.

4. Gratis. Bagi saya yang masih tergolong kalangan ekonomi terbatas, ASI merupakan solusi. Tidak terbayangkan jika saya harus membeli susu formula non protein sapi (baby Asa alergi protein sapi) yang harganya sedemikian mencekik.

5. Pasca melahirkan, bagi ibu, menyusui membantu proses kontraksi rahim hingga kembali ke bentuk semula. (Sumber)

6. Menyusui merupakan KB Alami. (Sumber)

7. Menyusui mengurangi resiko kanker payudara bagi ibu (Sumber)

8, 9, 10, … dst hingga terlalu banyak alasan untuk saya tulis disini.

Sebagai pembanding, berikut adalah permasalahan yang umum terjadi dan saya lihat langsung di lingkungan saya sendiri. Once again, tulisan ini hanya opini. Solusinya diberikan hanya sebagai perantara ke link artikel yang ditulis oleh para ahli. Tulisan ini hanya sebagai rangkuman.🙂

Mengapa tidak ASI?

1. ASI tidak belum keluar.

Solusi: Terus berusaha susukan bayi. Isapan bayi akan merangsang payudara ibu untuk menghasilkan ASI yang cukup bagi bayi. Remember, cukup bagi bayi. (Sumber)

2. Puting “tenggelam” alias “inverted nipple“.

Solusi: Bayi menyusu pada payudara, bukan pada puting. Jelas bayi masih bisa menyusui dengan kondisi puting datar. Isapan bayi akan merangsang dan menarik puting ibu keluar sehingga dapat membantu bayi untuk menyusui. Selama masa kehamilan, lakukan perawatan payudara. Bila perlu, ibu bisa membeli niplette (maaf, bukan iklan, hanya saran) untuk menarik puting keluar.

3. Puting lecet.

Solusi: Perbaiki posisi menyusui dengan benar. Menyusui seharusnya tidak menyakitkan. (Sumber)

4. Payudara bengkak dan sakit.

Solusi: Bersyukurlah. Itu artinya produksi ASI ibu lancar dan melimpah. Silakan susukan bayi ibu sesering mungkin tanpa jadwal. Jangan khawatir bayi akan kekenyangan karena bayi itu pintar. Ia akan berhenti menyusu jika dirasa telah cukup. Jika setelah menyusukan bayi PD ibu masih bengkak dan nyeri, coba kompres air hangat dan kemudian pompa PD setelah menyusukan bayi (Sumber)

Sekali lagi, tulisan ini merupakan bentuk dukungan saya pribadi untuk rekan-rekan yang konsisten menyusui di tengah kesibukan bekerja, tuntutan profesi dan sebagainya. Bagi para ibu yang memutuskan untuk memberikan susu formula bagi bayinya, saya yakin itu adalah pilihan terbaik yang mereka punya. Karena sejatinya, menyusui maupun tidak, seorang ibu tetaplah ibu yang akan selalu memberikan yang terbaik bagi bayinya.

Happy breastfeeding, moms!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s