Menjadi Guru…

Menjadi Guru…

Well, here I am..

After about 29 years, finally I decided myself to be a … teacher!

Setelah berkelana kesana kesini, ternyata passion  gue sebenernya memang menjadi seorang Guru…

oke, postingan kali ini marilah kita ber-gue ria aja biar lebih santai…soalnya mau curhat *gaya*

Nemuin passion  itu nggak gampang. It lies so much deep down inside there in your heart. You’ve gotta know what you like and willingly to do it even if you’re not being paid for it. Jadilah gue mencari, menggali dan menelaah setiap sudut hati dan pikiran gue. Gue. mau.kemana? Gue mau kerja apa?

Sebagai lulusan salah satu universitas teknik ternama di Indonesia *ceileee*, temen-temen dan keluarga gue sangatlah optimis kalo gue bisa dapet kerjaan yang lebih baik gajinya di luar sana, dibandingkan dengan apa yang dah gue dapet selama ini…

Gue pun sangat yakin kalo suatu hari nanti, entah kapan dan dimana gue akan jadi salah satu karyawan perusahaan IT mana gitu yang segala-galanya dari ujung rambut sampe ujung kaki gue dijamin dan diasuransikan…hem… 

Sampe gue sampe pada satu titik. I asked myself. What am I looking for?

Uang? Yes.

Waktu? Yes.

Gak munafik, gue butuh uang untuk bantu suami kepulin asap dapur… dan nabung dikit2 buat si jagoan kecil. Tapi masalahnya kalo gue kejar uang, maka waktu yang gue punya buat si ganteng kecil makin tipis. T_T’ Dan lagi, apa kuat gue bersaing dengan tenaga-tenaga kuda fresh graduate yang notabene kuat melek semaleman ampe pagi melototin layar monitor? Belakangan begadang dua hari berturut-turur ngerjain terjemahan aja dah bikin gue tepar seminggu. 

Uang dan waktu ini saling kejar-kejaran di wishlist gue. Akhirnya gue coba lagi susun satu satu kepingan prioritas di hidup gue. Oke, Asaboy is still number one. He’s the light of my life. Ternyata dengan menjadi seorang guru honorer dengan waktu yang fleksibel, gue rasa paling cocok buat kondisi gue sekarang (ga tau nanti). Tapi gue nggak pernah seyakin ini untuk menjadi dan MENGAKUI bahwa gue adalah seorang guru. Mungkin slip gaji ga usahlah dipandang, tapi selain itu? Alhamdulillah selama ini selalu cukup, kalo pun kurang itu karena gue belum bisa atur keuangan dengan baik. Antara gaya hidup dan gaya dompet yang berbanding terbalik.😛

Guru honorer yang kerja sebulan dibayar seminggu (ga tahu ini rumus dari mana. :P), harus nyambi lagi di sekolah swasta demi selembar pengakuan sertifikat pengajar… entah peraturan macam apa yang dibuat sama pemerintah… T_T’

Menjelang tahun ajaran baru ini bener-bener ujian banget… tapi alhamdulillah gue bersyukur dengan semua yang gue rasakan sekarang.. Anak satu jagoan makin pinter, suami juga makin pinter bahagiain gue.. *susah suit*, mertua, ipar2 yang baik, dan keluarga yang tentram damai sentosa… semoga aja dengan keputusan yang gue pilih sekarang memang jalan yang Allah tentukan yang terbaik buat gue, Amin. 

Dan kalo ada lagi murid gue yang nanya: “bu, kenapa kok malah ngajar sih bu? kenapa nggak kerja di kantoran aja bu?” gue punya jawaban pasti. Because it’s my calling.🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s