Pelayanan BPJS di RS Hermina Depok (1)

Pelayanan BPJS di RS Hermina Depok (1)

-Disclaimer: postingan ini adalah murni hasil pengalaman pribadi tanpa adanya maksud untuk mempromosikan atau mendiskreditkan pihak tertentu-

Senin, 13 April 2015

Setelah kehilangan calon bayi di kehamilan kedua yang gue ceritain disini, akhirnya gue dan suami putuskan untuk minta rujukan ke faskes 1 (Klinik Sukamaju Baru) untuk kemudian tindakan ke RS. Hermina Depok.

Jpeg

Syarat berkas yang diminta disini hanya Fotokopi kartu BPJS dan menunjukkan kartu BPJS yang asli.

Untuk minta rujukan ke dokter spesialis kandungan dari klinik ini ndak rumit, karena di klinik ini nggak ada dokter kandungan yang praktek. Jadi malam itu gue cuma diperiksa sekilas sama dokter jaga dan dikasih rujukan ke RS. Hermina Depok, sesuai dengan permintaan gue.

Setelah selesai diperiksa, dokternya kasih gue surat rujukan kemudian ke loket untuk dibubuhkan cap klinik. Setelah dapat surat rujukan, gue disuruh tanda tangan di form pelayanan pasien BPJS.

Biaya: Rp. 0,-

Selasa, 14 April 2015

Kami berangkat ke RS Hermina Depok untuk konsul ke dokter kandungan. Fyi, sebagai pasien pengguna BPJS kita memang nggak bisa pilih dokter jadi ya, pasrah aja dengan pilihan dokter yang ada.

Bukan sekedar banner :)
Bukan sekedar banner🙂

Kami sampai di RS Hermina jam 8. Taruh berkas antrian di meja pelayanan BPJS. Adapun syaratnya:

1. Fotokopi Surat Rujukan dari Klinik/ Puskesmas (Faskes I) –> siapkan copy rujukan yang agak banyak karena setiap tindakan akan membutuhkan ini

2. Fotokopi Kartu Keluarga

3. Fotokopi KTP pasien

4. Fotokopi kartu BPJS

Jpeg
Papan persyaratan berkas pasien BPJS

Antrian di loket BPJS ini agak lama. Maklum, ini adalah pintu utama pelayanan BPJS di RS ini. Setelah dapat giliran pelayanan, setiap pasien BPJS akan diarahkan ke poliklinik masing-masing sesuai dengan surat rujukan masing-masing.

Meja pelayanan BPJS RS. Hermina Depok (tampak samping)
Meja pelayanan BPJS RS. Hermina Depok (tampak samping)

Gue sendiri dateng jam 8 kemudian dipanggil untuk diarahkan ke poli kandungan jam 9 pagi. This is quite fast, dibanding dengan gue ke dsog favorit di bilangan jaksel sana. Dateng jam setengah 5 sore, bisa ketemu dokternya jam 9 malam.😛

Setelah diarahkan ke poli Kandungan, gue pikir akan masih mengantri lama. Suami masih dalam perjalanan ke RS Hermina, jadi gue santai aja dulu nunggu di ruang tunggu poli Kandungan.

Kira-kira 5 menit kemudian, gue dipanggil untuk masuk ke ruang periksa. Agak shock karena cepet banget dan lumayan deg degan karena suami belum sampai. Tapi ya gue pasrah aja deh..

Sampai di dalam ruang periksa, dokter kandungan yang dinas pada saat itu adalah dr. Fahmialdi, SpOg. Beliau dengan sangat ramahnya berdiri dan memperkenalkan diri dan kemudian mempersilakan gue duduk.

Setelah ice breaking yang cukup menyenangkan tadi, gue serahkan resume riwayat pemeriksaan kandungan gue sejak gue testpack. Dokternya kelihatan agak senang dengan resume itu karena kita nggak perlu berdialog panjang lebar dan menerka-nerka diagnosa gue selanjutnya.

Selesai menyalin semua medical record kandungan gue, akhirnya sang dokter mempersilakan gue untuk naik ke bed untuk USG abdomen.

Thank’s God it was not transvaginal USG.

Dokter scanning perut gue dengan sangat teliti. Dia bahkan nggak memvonis kandungan gue harus diapain selanjutnya. Yang dia lakukan hanya memeriksa keseluruhan rahim secara detail. The most detail obgyn I’ve ever met. Padahal rujukan dari klinik faskes 1 dah jelas bahwa janin gue nggak berkembang. Termasuk juga opini dan hasil USG dari 2 dokter kandungan sebelumnya yang tertera di resume medical record gue.

Oke, mungkin statement gue barusan agak lebay. Tapi bener deh, mungkin juga ini di luar ekspektasi gue sebagai pasien BPJS yah. Dari semua gosip pelayanan BPJS yang kurang memuaskan, alhamdulillah kali ini nggak terbukti.

Berikutnya beliau cuma bilang (dengan sangat lembut), “Ibu, mohon maaf… setelah diperiksa sepertinya janin ibu berhenti berkembang.Selanjutnya ibu mau bagaimana?”

Gue bilang kalo gue dan suami sudah pasrah dan mengikhlaskan yang terbaik. Beliau menyarankan, “Secara medis, ini lebih baik dikeluarkan bu… demi kesehatan ibu”

Dan yak… saat itu (karena suami belum sampai) kami ambil keputusan untuk kuretase.

Beliau masih kasih gue kesempatan untuk pikir-pikir lagi. Tapi gue bilang sama dokternya kalau ini sudah pendapat ketiga dan sepertinya ini sudah final. Kami juga sudah mengikhlaskan.

Jadilah kami atur jadwal untuk kuret. Gue dijadwalkan periksa lab di keesokan harinya (oya, pasien BPJS punya plafon harian jadi satu hari satu tindakan dan satu kesempatan konsultasi-ini informasi dari RS)

Keluar dari ruang periksa, gue masih harus urus berkas di meja perawat.

Well, gue nggak nyangka bahwa proses kuretase di RS akan sepanjang ini. Pengalaman dulu operasi SC di RSIA Andhika terbilang singkat dan nggak banyak pemeriksaan.

Di meja perawat, gue dan suami tanda tangan berkas-berkas dan diwawancara tentang riwayat kesehatan pribadi dan keluarga. Proses ini agak lumayan lama. Tapi gue seneng, artinya disini setiap tindakan apapun dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk meminimalisir resiko.

Even buat pasang venflon (kepala infus) aja kudu ada surat persetujuan keluarga🙂

Setelah selesai urusan berkas, gue disarankan ke kasir. Disini agak deg degan sih… bayar berapa yah? di kuitansi tertera Rp. 70.000 untuk konsultasi dokter. Tapi ternyata itu ditanggung BPJS🙂

Rp. 0,- (^_^)

Rabu, 15 April 2015

Kami berangkat dari rumah jam 7.00. Kali ini mas Asa dibawa karena kemarin ngambek minta ikut.🙂 Kami pikir nggak masalah karena hari ini jadwalnya hanya periksa lab dan konsultasi dengan dokter anestesi.

Sampe di rumah sakit jam 7.30. Berkas di meja layanan BPJS sudah lumayan menumpuk. Setelah meletakkan berkas, kami makan bubur ayam dulu di depan RS.

Jam 7.50 kami kembali ke RS dan ternyata meja pelayanan BPJS sudah dibuka.🙂

Hari ini proses antrian agak lama dari biasanya karena printer yang digunakan untuk mencetak form BPJS ngadat. Akhirnya petugas harus mengisi form tersebut secara manual (fyi, form ini dibuat rangkap tiga, jadi kebayang kan pegelnya si petugas😛 belum lamanya proses dan harus bersabar menangani pasien yang bolak balik menanyakan apakah dirinya sudah dipanggil atau belum)

Akhirnya, jam 10 kami baru diarahkan ke lab di lantai 2. Periksa darah dulu di lab, kemudian duduk menunggu hasilnya di ruang tunggu. Setelah periksa lab, kami diarahkan ke kasir.

Biaya periksa lab: Rp. 156.000 (ditanggung BPJS)

Setelah hasil pemeriksaan darah keluar, kami langsung naik ke lantai 4 untuk konsultasi dengan dokter anestesi.

Dokter yang sedang bertugas saat itu adalah dr. Eva. Dokternya cantik dan ramah pula. Gue cuma disuruh berbaring, periksa denyut jantung, dan diwawancara mengenai alergi dan riwayat kesehatan keluarga dan pribadi.

She’s kind and quite encouraging me to face this D&C process. Gue bilang kalo gue parno karena ngebayangin dibius total pada saat kuret nanti.

Beliau bilang itu normal, bagi pasien yang belum pernah dibius total dan menghadapi operasi pasti takut dan khawatir. Yakin dan tawakal aja katanya. Persiapkan kondisi fisik yang terbaik dan banyak banyak berdoa… itu aja kuncinya biar tenang🙂

Biaya konsul dokter: Rp. 70.000 (ditanggung BPJS)

Kamis, 16 April 2015

Hari ini jadwalnya masuk kamar rawat dan pasang laminaria (pembuka jalan lahir)

Gue dijadwalkan pasang laminaria jam 16.00 untuk kemudian masuk kamar rawat inap persiapan buat kuretase keesokan harinya.

Sebagai pasien BPJS yang baik, kami dah sampai di RS jam 14.00. Mengingat kalau kami harus melalui tahapan pendaftaran di loket BPJS yang (dikhawatirkan) mengantri lagi.

Prosesnya lumayan cepat, sampai RS taruh berkas, nggak sampai sepuluh menit kami sudah dipanggil. Mungkin karena sudah siang dan pasien BPJS sudah berkurang di pagi harinya.

Tahapan selanjutnya, kami diantar oleh petugas ke ruangan VK untuk persiapan pasang laminaria.

Sampai di ruang VK, saya disarankan berbaring sambil menunggu dokternya datang.

Sekitar pukul 16.00, saya disarankan untuk ganti baju RS dan dipersiapkan untuk pasang laminaria. Periksa berat badan dan tensi. Alhamdulillah semua kondisi baik.

Kemudian saya dipindahkan ke ruang observasi. Setelah dokter datang, saya dipindahkan lagi ke ruangan bersalin, kemudian dimulailah pemasangan laminaria.

Bagi pasien yang akan dikuret (bukan abortus spontan), ternyata laminaria ini sangat penting karena berfungsi untuk membuka mulut rahim.

Setelah laminaria terpasang, saya dipindahkan ke ruangan observasi.

Kami sempat menanyakan kapan akan dipindahkan ke ruang rawat. Ternyata menurut susternya kami tetap tinggal di ruang observasi hingga tindakan kuretase jam 8 pagi besok karena saya harus dipantau setiap jam untuk tensi dan dikhawatirkan ada perdarahan lanjutan.

Maka malam itu kami stay di ruang observasi sampai keesokan pagi. Dan memang, setiap jam setelah dipasang laminaria, perawat selalu datang dan memeriksa tensi dan kemungkinan perdarahan. Alhamdulillah lancar ndak ada masalah sampai pagi.

Bersambung

12 thoughts on “Pelayanan BPJS di RS Hermina Depok (1)

  1. Mba…makasih ya infonya..pas banget saya ngalamin hal yang sama kaya mba dan besok akan proses BPJS di hermina untuk kuret..Gbu mba

    1. Iya.. sama-sama, mbak,…. semoga lekas pulih kembali dan dikaruniai momongan lagi pada saat yang tepat ya… Gbu, too🙂

  2. Pasien BPJS : mulai datang pagi ke hermina depok untuk tindakan kuret dri tgl 14, bersambung 15,16,17 april 2015 (pasien sudah check dan mengetahui janin tidak berkembang di RS. Lain)

    Pasien reguller : mulai datang pagi ke hermina ciputat tgl. 29 des 2015, konsultasi ke dokter dan mengetahui janin tidak berkembang, langsung ditindaklanjut kuret hri itu jga dibantu oleh suster dan plang pagi. (pasien sudah check dan mengetahui janin tidak berkembang di RS. Lain)

    Yg harus digaris bawahi dalam proses pelayanan dan tindakan dilihat bahwa tidak ad kesamaan pelayanan antara pasien BPJS dgn pasien Reguller.

    1. Kalau prosedur pelayanan jelas berbeda, mas. Tapi yang saya maksud adalah kualitas pelayanan. Tetap ramah… tidak ada pembedaan. That’s what I mean🙂

      1. Pelayanan yang diberikan oleh RS. Hermina Depok sangat baik dan nyaman. Saya tidak merasakan adanya pembedaan antara pasien BPJS dan pasien reguler.

        Owhh… jadi maksud kalimat ini apaya… Mohon pencerahan.

      2. Maksudnya, rs hermina depok ini, walaupun rs swasta, notabene profit-oriented, masih menerapkan sop keramahan yang sama antara pasien bpjs dan pasien non bpjs.

  3. Mba,mau tanya. Waktu urus BPJS ke faskes tingkat 1, mba udah tau blm kalau janin tdk berkembang? Saya barusan jg dibilang janin tdk berkembang di hermina tp pk biaya pribadi. Kalau abis itu baru minta rujukan BPJS bs ga ya?

    1. Waktu itu sih aq dah tahu mbak…ketika minta rujukan ke faskes 1 (faskes 1 aq ga ada dokter kandungannya) itu aq nunjukin hasil usg dan dokter umum di faskes 1 lgsg kasih rujukan ke faskes 2 dengan diagnosa blighted ovum. Selanjutnya di hermina saya jalani sesuai dengan prosedur deh… 🙂
      Semoga mbak diberikan kemudahan juga ya… amin….

      1. Amiin…semoga jalannya dimudahkan jg.
        Iya krmn saya akhirnya minta rujukan ke faskes I,tp ga bs langsung ke RS krn weekend,BPJS cm utk hari kerja aja. Td pagi udah mulai bleeding,ntar pas ke RS langsung minta diarahkan ke proses kuret aja kali ya,apa tetep ke spog dulu?
        Makasih banyak sebelumnya ya Mba atas infonya..

      2. Awalnya dr. Afra, trus pas pk bpjs dipilihin dr. Atjang dan anestesi dr. Eva, dikasih jadwal utk kuret kamis. Tp semalem aku ga kuat lg nahan sakit,jdnya yg handle dr. Fahmialdi,anestesi dr. Hendro siapaaa gt.. Baik2 dokter dan bidannya walaupun saya pakai bpjs 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s