Tentang Guru Honorer

Tentang Guru Honorer

Post #33

Duh, judulnya… what a lame topic, huh?

Topik yang sama sekali nggak keren sih menurut gue karena terlalu banyak dramanya daripada cerita senengnya.

Tapi gue mau cerita bukan tentang gue, tapi guru honorer lain di sekolah lain.

Sesama guru honorer.

Semalam, saat menjemput 3 krucils , sang mama bercerita ke gue.

Oh ya, fyi, walaupun murid gue ada 3 orang, yang bersaudara hanya 2 orang.. yang 1 lagi (X) ditarik belajar sama si mama karena anak yang satu ini menurut beliau kasian karena nggak pernah belajar di rumahnya dan kerap kali maiin aja di rumah si mama 2 bersaudara.

Dan ya, namanya juga nggak pernah belajar di rumah, ya.. kemampuan akademisnya jauh banget sama si 2 bersaudara ini.

Bayangin aja, gue tanya 2×3 mikirnya to the moon and back! lamaaa banget. Padahal si X ini sudah duduk di bangku kelas 5, men!

Oke, gue lebay. Maaf ya X.😦

Back to the guru honorer, then…. 

Well, menurut si mama, guru si X dan salah satu anaknya waktu di kelas sebelumnya itu kurang peduli sama anak-anak. Karena parah aja gitu kan kalo kelas 5 nggak hafal perkalian.. gimana mau ngerjain soal UN nantinya?

Kalo menurut gue, beban guru SD itu jauh lebih berat daripada anak SMK/SMA. Kenapa?

Karena mereka menerapkan konsep, bukan ujug2 kasih rumus, terus blas anak jago gitu..

Dan lo tahu kan kalo anak SD negeri itu jumlah siswa dalam satu kelasnya gak cukup 1 bis?

Kalau berdasarkan kurikulum, seyogyanya satu kelas itu hanya memuat 15-20 orang siswa. Kenyataannya di lapangan, satu kelas bisa 40 bahkan 50 siswa.

Jadi, jangankan guru honorer.. sepertinya guru PNS pun sepertinya sudah luar biasa kewalahan dalam proses KBM itu sendiri.

Dan hal ini sudah terjadi sekian belas tahun, bahkan puluhan tahun lamanya.

Secara kasar, kita tidak bisa “mengandalkan” sekolah dan menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak-anak sepenuhnya ke sekolah.

Orang tua lah yang berperan penting dalam menentukan nasib pendidikan untuk anaknya masing-masing.

Gue orang tua, dan gue juga guru. Gue sadar porsi gue sebagai guru dan gue juga sadar kapasitas gue sebagai orang tua. Terlalu panjang, lama dan berliku jalannya kalau gue mau mengubah sistem dimana sekolah bisa menjadi “surga pendidikan anak”.

Well, berharap sih boleh… tapi sepertinya kita sebagai orang tua bisa bertindak lebih dan mengambil alih tanggung jawab tersebut. Lagipula, itu kan anak kita sendiri… ya masa kita menyalahkan orang lain kalau anak kita nggak bisa ilmu dasar macam menghafal perkalian?

Just my two cents. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s