Duka di hari Minggu

Duka di hari Minggu

Minggu, 7 Februari 2016

Post #37

Di hari minggu pagi yang cukup cerah ini, tetiba nyokap pulang dari lari paginya dengan muka cemas. Gue sih masih santai aja kemulan bertiga di kamar.

Ketika dengar nyokap sibuk telponan dan dengar kata-kata “dibunuh” itu langsung gue getap, penasaran dan duduk di samping nyokap yang masih sibuk telponan. Gue pikir pastilah ini berita duka. Dan ya, benar…

Salah seorang murid nyokap diculik dan dibunuh sepulang sekolah.

Nggak nyangka banget kan hal yang kayak begini kejadiannya nyata dan dekat banget?

Hello, ini Depok … sepotong kota di propinsi Jawa Barat yang ber-slogan “Layak Anak”?

Sedih, panik, nggak percaya, semua bercampur jadi satu. Nyokap langsung ganti baju dan minta diantar ke rumah duka.

Gue ke rumah duka sekitar pukul 10 pagi dan kondisi masih sepi. Cuma ada 1 atau 2 orang tetangga. Sampe di rumah duka, nyokap dan kakak almarhum sudah berkali-kali pingsan dan cuma bisa tergolek lemas di tengah ruangan.

Ceritanya dah nyebar kemana-mana bahkan gue tahu kronologis dan sebagainya dari salah satu kanal berita online yang konon beritanya di-apdet per menit.

Disini gue nggak akan cerita kronologis, motif dan lain sebagainya. Tapi secara garis besar, gue bisa ambil kesimpulan bahwa ini adalah kecolongan. Mirip kayak kita kemalingan dompet yang ditaruh di saku celana belakang saat kita naik KRL. Mungkin bisa dicegah kalau kita nggak lengah. Sayangnya yang hilang kali ini bukan dompet, tapi nyawa seorang anak yang sangat berharga.

Logikanya, bagaimana mungkin seorang anak bisa diculik dengan kondisi sekolah dan rumah yang berjarak tempuh kurang lebih 10 menit jalan kaki, 5 menit naik angkot?

Miris, kan?

Menurut gue, tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah:

  1. Gaul. Anak sekolah punya teman dan orang tua. Bertemanlah dengan para emak2 yang bisa nungguin anaknya sekolah (asumsi kalau kita kerja ya). Titip anak kita kalau kita nggak bisa jemput sendiri. Jangan lupa sering2 bawain makanan atau bekal sekolah lebih biar anak kita berbagi sama anak emak2 tersebut. Support group itu penting sebagai perpanjangan tangan kita di sekolah untuk mengawasi anak tercinta
  2. Minta dan simpan baik-baik no. telepon bapak/ ibu guru di sekolah. Kalau gurunya nggak mau dimintain no henpon, pindah sekolah dan cari guru yang bisa diajak kerjasama.
  3. Berhenti kerja. antar dan jemput anak sendiri kalau nggak mau merepotkan orang lain.

Saran gue ekstrim? Iya, karena akibatnya juga ekstrim.

Ibunda almarhum sampai sekarang kondisinya masih shock  dan cuma Allah yang tahu kapan beliau bisa menerima kenyataan bahwa anak bungsunya tercinta telah direnggut paksa.

Selama kurang lebih 3 jam gue di rumah duka, hati gue pun hancur. Gue belum sempat kenal sama almarhum, tapi gue bisa merasakan kepedihan mendalam yang dirasakan oleh ibunda almarhum.

Selepas shalat dzuhur ibunda almarhum masih teriak manggil nama almarhum, mengingatkan untuk segera bersiap pergi mengaji. Ketika beliau lihat nyokap gue, beliau panggil lagi almarhum untuk mengerjakan PR bersamanya. Ketika satu persatu pelayat pamit pulang dan menyelipkan “uang duka” beliau menolak dan bilang bahwa beliau nggak butuh amplop, beliau minta tolong kembalikan saja almarhum seperti semula. Beliau nggak butuh harta. Harta bisa dicari, tapi nyawa anak tercinta hilang mau dipinta kemana?

Sepulang dari rumah duka, gue banyak mikir dan refleksi diri. Ini pelajaran berharga buat gue. buat semua emak2, baik yang kerja maupun nggak. Memang betul kata bang napi.

Kejahatan bisa terjadi bukan cuma karena ada niat pelaku, tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah, waspadalah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s