Belajar Dari Anak

Belajar Dari Anak

February 16th, 2016

Post #46

Pagi ini gue berangkat agak pagi karena dapat jadwal jam pertama. #Asaboy dah gue bangunkan sejak jam 5 subuh supaya nggak terlalu cranky saat nanti berangkat jam 6.

Kenyataannya, anak gue itu kebluk banget jadi saat gue tinggal mandi dan bersiap, beliau pun kembali bobo ganteng.

Dan, saat gue dan nyokap mau berangkat, jadilah dia cranky karena merasa bobonya terganggu.

Setelah mengeluarkan jurus seribu bujukan, Asaboy mau berangkat juga akhirnya dengan tawaran beli donat.

Asaboy naik ke motor dengan riang gembira sambil bilang

“Kita kan mau nganter oma ya, mi?”

Gue mengangguk takzim.

Kami berangkat diiringi dadah-dadahan ke papinya Asaboy.

Trayek pagi gue yang biasanya :

Rumah-> Sekolah nyokap -> Daycare -> Sekolah gue

Berubah menjadi:

Penjual Donat -> Daycare -> Sekolah nyokap

Ndilalah sang penjual donat masih menggoreng donatnya… kami nggak mungkin menunggu jadi gue langsung tancap gas aja ke arah sekolah nyokap.

Cranky session Asaboy kumat lagi saat kami melalui jalan menuju daycare yang searah dengan penjual donat. Sepanjang jalan nangis kencang dan berteriak, memerintahkan gue untuk memutar arah motor yang kami tumpangi. Bahkan dia sempat berusaha memutar paksa setir motor hingga sedikit oleng.

Nyokap dah mulai panik dan ikutan teriak dari belakang, berusaha menenangkan anak gue yang tantrum.

Gue?

Pengang terjepit teriakan depan dan belakang.

Gue cuma bisa bilang ke nyokap untuk bersabar karena biasanya Asaboy akan berhenti nangis kalo dia dah capek. haha

Jalur yang agak jauh dan memutar membuat anak gue panik dan merasa bahwa kami tidak sedang menuju arah yang kami tuju, sekolah nyokap.

Entah mengapa, tetiba gue teringat beberapa event tidak menyenangkan di suatu tempat. Gue kerap kali emosi dan ngamuk karena merasa bahwa kita tidak sedang on track pada saat mengerjaan proyek tertentu.

Mungkin memang jalan memutar itu diperlukan karena ada satu dan lain hal.

Tapi karena nggak ada komunikasi dan koordinasi yang baik, gue nggak paham arahnya kemana,  I couldn’t see what we were going throughThen I decided to jump and let them went through. Although until the time I’m writing this post, I couldn’t see my former team’s destination. 

Tujuan mereka memang nggak jelas. Entah mereka memang nggak mengkomunikasikannya dengan baik, atau gue yang dah keburu gagal paham dan ogah memahami. Sudah keburu lelah sih sebenarnya. Mungkin gue dulu kurang sabar juga.. Tapi pagi ini untuk pertama kalinya, gue mikir…. mungkin aja gue yang salah. Mungkin, mereka sedang mengambil jalur memutar untuk menuju tempat yang pernah kami tuju bersama sebelumnya.

Well, wallahualam.

I just want to say that, whether I’m in it or not, I always pray that we will reach our projected destination.

Amin

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s